Banten

Goresan Sang Guru SMP Negeri 6 Cilegon Dan Mahasiswa

Oleh : M. ASHOLAHUDIN, M.Pd (GURU SMP 6 CILEGON DAN MAHASISWA S3 PENDIDIKAN UNTIRTA)

CILEGON, Joernalinakor.com – Perkembangan dunia pendidikan dan pembelajaran dewasa ini semakin pesat seiring dengan perkembangan budaya manusia dalam menghasilkan cipta, rasa, karsa, rupa, dan rekayasa. Hasil dari perkembangan tersebut , maka sudah pasti lahirnya model produk-produk terbarukan sebagaimana dalam dunia pendidikan dan pembelajaran lebih sering dikenal dengan istilah inovasi pendidikan.

Teknologi telah menjadi bagian integral dari tiap peradaban kehidupan masyarakat sejak ribuan tahun yang lalu. Pada zaman batu pun telah ada tekmologi, seperti misalnya yang digunakan untuk membangun piramida, membangun candi Borobudur, untuk membuat api, dan lain sebagainya.

Pada awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu, teknologi itu dikenal sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh guru di sekolah. teknologi pendidikan digambarkan sebagai alat-alat audiovisual seperti radio dan kaset. Perkembangan audiovisual pada awal tahun 1900-an merupakan media bergerak yang sama.

Teknologi pendidikan muncul sebagai bidang studi dan bidang kategorisasi sejak awal 1960-an yang pada waktu itu berkembang dua bidang yang dikembangkan, yaitu konsep mengenai audiovisual pendidikan dan bidang program pembelajaran.

Pada tahun 1960-an, teknologi pendidikan menjadi salah satu kajian yang banyak mendapat perhatian di lingkungan ahli pendidikan. Pada awalnya, teknologi pendidikan merupakan kelanjutan perkembangan dari kajian-kajian tentang penggunaan audiovisual, dan program belajar dalam penyelenggaraan pendidikan. Kajian tersebut pada hakikatnya merupakan usaha dalam memecahkan masalah belajar manusia. Solusi yang diambil melalui kajian teknologi pendidikan bahwa pemecahan masalah belajar perlu menggunakan pendekatan-pendekatan yang fungsional dengan banyak memfungsikan pemanfaatan sumber belajar untuk kepentingan pemecahan masalah belajar yang dihadapi setiap peserta didik.

Menurut Situmorang (2019 :1.21) definisi teknologi pendidikan diluncurkan secara bertahap oleh AECT (Association for Educational Communications and Technology), dan terus diperbaiki sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Hal ini terbukti munculnya definisi tahun 1963,1977, 1994 dan 2004. Pada definisi tahun 1963, didorong oleh pendapat dari Edgar Dale dan David K. Berlo, menyebutkan teknologi pendidikan sebagai komunikasi audiovisual. Pada definisi berikutnya yakni tahun 1977, memisahkan antara definisi teknologi pendidikan dan definisi teknologi pembelajaran. Kembali setelah jeda 17 tahun AECT kembali merumuskan definisi, yakni tahun 1994, definisi yang muncul adalah nama teknologi pembelajaran karena lebih dianggap membumi dan terapan. Definisi tahun 2004 yang merupakan definisi terbaru, mengembalikan nama teknologi pendidikan dalam rumusan definisinya.

Menurut Salisbury (Abdulhak,2017:106) teknologi adalah “ systematic application of scientific or other organized knowledge to practical task (Aplikasi sistematik sains atau pengetahuan lain dalam tugas praktikal”. Pendapat yang lain yaitu Roger (1983) tentang teknologi adalah suatu rancangan langkah instrumental untuk memperkecil keraguan mengenai hubungan sebab akibat dalam mencapai hasil yang diharapkan, dan dikatakan juga bahwa tekmologi umumnya mempunyai dua komponen yaitu : aspek perangkat keras yang berupa peralatan dan aspek perangkat lunak yang berupa informasi.

Menurut Hidayat (2019:1) pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan manusia dalam menciptakan diri dan masyarakat agar mempertahankan hidup dalam arus perkembangan zaman. Menurut Warsita (2011:2) pendidikan merupakan kebutuhan sekaligus hak dasar bagi setiap warga negara, tanpa membedakan golongan, gender, usia, status sosial, maupun tempat tinggal, maksudnya adalah bahwa setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh layanan pendidikan.

Menurut Miarso (2004:139) pengertian teknologi pendidikan adalah suatu proses yang kompleks dan terintegrasi yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek manusia. Pemecahan masalah menjelma dalam bentuk sumber belajar yang dirancang, dipilih dan/atau digunakan untuk keperluan belajar, dan yang terdiri dari pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar (lingkungan). Proses analisis masalah merupakan fungsi pengembangan pendidikan dalam bentuk riset/teori, desain, produksi, evaluasi, seleksi, logistik, pemanfaatan, dan penyebarluasan. Proses pengarahan dan koordinasi merupakan fungsi pengelolaan pendidikan yang meliputi pengelolaan organisasi dan personel. Menurut Darmawan (2017:109) teknologi pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.

Teknologi pendidikan secara mendasar merupakan aplikasi dari pendekatan sistematik. Pendekatan tersebut tampak pada tiga aspek utama, yaitu;

  1. Spesifikasi tujuan-tujuan pendidikan dalam suatu pelajaran.
  2. Penentuan metode-metode mengajar/belajar yang digunakan.
  3. Penilaian materi pelajaran sehubungan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Menurut Nasution (2012:9) dalam garis besarnya, langkah-langkah yang diikuti dalam metode teknologi pendidikan adalah :

  1. Merumuskan tujuan yang jelas yang harus dicapai yang dapat dipandang sebagai masalah.
  2. Menyajikan pelajaran menurut cara yang dianggap serasi yang kita pandang sebagai “hipotesis” yang perlu dites.
  3. Menilai hasil pelajaran untuk menguji hipotesis itu. 
  4. Mencari perbaikan andaikan hasilnya belum memenuhi syarat atau standar yang ditentukan dan melangsungkan percobaan dengan cara lain sampai tercapai apa yang diharapkan.

Teknologi pendidikan dapat ditafsirkan sebagai media yang lahir dari perkembangan alat komunikasi yang digunakan untuk tujuan pendidikan. Alat-alat itu lazim disebut “hard ware”. Ada pula yang memandang teknologi pendidikan sebagai suatu pendekatan yang ilmiah kritis, dan sistematis tentang pendidikan. Teknologi pendidikan juga menurut Suparman (2019:7.3) berperan dalam mendesain dan mengembangkan kualitas pendidikan secara sistematik dan sistemik untuk digunakan dalam melayani sejumlah besar peserta didik yang heterogen. Menurut Nasution (2012:13) teknologi pendidikan juga merupakan usaha yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki metode mengajar dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah yang membuktikan keberhasilan dalam bidang-bidang lain.

Menurut Miarso (2009:106-107) objek yang ditelaah (ontologi) oleh teknologi pendidikan diantaranya adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan :

  1. Adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang (penulis buku, prosedur media, dan lain-lain), pesan (yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televisi, radio, dan lain-lain), cara-cara tertentu dalam mengolah/ menyajikan pesan, serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung.
  2. Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual maupun secara faktual.
  3. Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna kepentingan keperluan belajar.

Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar, belajar lebih efektif dan efisien, lebih luas dan lebih cepat, dan seterusnya. Untuk itu, ada produk yang dibuat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. Perkembangan teknologi infomasi dan komunikasi yang sangat cepat pada dekade ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan dan telah membalik cara berfikir kita dengan bagaimana mengambil manfaat teknologi tersebut dalam mengatasi masalah pembelajaran.

Perkembangan teknologi pendidikan sebagai sebuah ilmu yang dinamis dan pragmatis mampu melahirkan sejumlah kajian-kajian penting dalam upaya rekayasa pembelajaran, terutama berkenaan dengan media pembelajaran, prosedur pengembangan desain intruksional, serta upaya-upaya melakukan adopsi terhadap hasil inovasi ilmu-ilmu lain untuk kepentingan dunia pendidikan dan pembelajaran.(Handi)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close