Maluku

POLITIK MALU HATI ORANG SBT

SERAM BAGIAN TIMUR, Joernalinakor.com – Seram Bagian Timur (SBT) merupakan Kabupaten yang sering mengadopsi cara berpolitik yang dalam istilah saya “politik malu hati”. Politik malu hati itu adalah sistem berpolitik yang dibangun, tapi mengabaikan kekuatan skil, kecerdasan, dan kualitas.

Hal ini menjadi kemunduran dalam politik di SBT itu sendiri baik oleh kelompok mayoritas dan minoritas (dilihat dari jumlah etnik, suku, budaya, dan agama) dan bagi para leluhur di sana. Fenomena ini yang sering di jadikan sebagai bahan olahan pemerintah Kabupaten SBT untuk menjadi doktrin yang menjadikan masyarakat SBT dari masa ke masa atau dalam setiap momentum perpolitikannya. Akibatnya, masyarakat kemudian terus-menerus mendapatkan asumsi yang negatif dan buruk.

Politik malu hati ini dampaknya adalah dapat kita rasakam ketika datang masa pemilihan Bupati hingga turun sampai pemilihan secara demokrasi di tingkat paling bawah yakni pemilihan kepala dusun pun mendapatkan dinotasi hingga menimbulkan konotasi yang ambigu, rasa malu hati yang melekat pada sifat orang SBT kebanyakan menurunkan kualitas dari masyarakatnya. Bahwa seseorang yang begitu kurang kualitasnya masih saja didorong bahkan dimenangkan menjadi pemimpin daerah. Sehingga kuantitas seseorang lebih diutamkan ketimbang kualitasnya.

Masyarakat SBT pada umumnya meletakkan politik malu hati menjadi sebuh tata nilai dan melahirkan sebuah budaya kemudian membesar menjadi sebuah peradaban politik malu hati dari generasi ke generasi. Ini dalam pandangan Cak Nur adalah peradaban yang salah, dan peradaban yang salah itu akan menghasilkan kehancuran.

Dampaknya yang lain adalah saudara yang memiliki keterkaitan keluarga yang kuat (seperti marga, jabatan, relasi, dsb) yang ingin menjadi calon legislatif (caleg) atau mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati pasti menang apabila menggunakan pendekatan-pendekatan emosional seperti yang sudah dikemukakan di atas. Karena terpilihnya pemimpin daerah sampai turun pada anggota legislatif/parlemen daerah yang hanya berdasarkan kekuatan marga, jabatan, relasi, dsb. Sehingga kemenangan dan keterwakilan hanya sebab dari prinsip kemaluhatian masyarakat. Keberhasilan calon pemimimpin (daerah) bukan lagi soal kemampuan kepemimpinannya, integritas, ideologi, serta kualitas yang lain-yang baik itu.

Sesar, Seram Timur, 27 Maret 2021.
Hijrah Tueka

(A, R. RAHAYAAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *